Sabtu

Liputan Usaha Butik


Busana Berkelas Dengan Koleksi Terbatas

Penampilan menarik harus ditunjang pula dengan balutan busana yang pas dengan tubuh ketika dikenakan. Tidak sekedar pas, corak, model, dan warna juga sangat menentukan. Pengaruh pakaian sangatlah penting sebagai penunjang penampilan, kenyamanan, dan menambah kepercayaandiri kita.

Kalau di era tahun 90-an gerai-gerai busana berkelas butik hanya bisa kita jumpai di pusat perbelanjaan kelas atas saja. Kini butik sudah mulai merambah ke pertokoan-pertokoan kelas menegah. Bahkan ada yang berlokasi di komplek perumahan.

Butik yang berada di lokasi komplek perumahan ternyata mempunyai koleksi busana yang tidak kalah bagusnya dengan butik berkelas yang sudah punya nama besar.

Walaupun koleksi busana yang dipajang sebagian besar hasil perancang busana muda. Namun, busana rancangan mereka bisa bersaing dengan hasil rancangan perancang busana terkenal. Bahkan, kalau diperhatikan lebih teliti busana rancangan mereka terkadang lebih bagus.

Geliat bisnis busana yang berkelas butik, memang mempunyai image berharga mahal. Wajar saja karena mereka hanya mengeluarkan satu busana untuk satu model. Hal tersebut untuk menjaga keskslusifan citra produk pakaian dari gerai busana yang berlabel butik.

Faktor lainnya, busana yang berada di butik umumnya dikerjakan oleh seorang perancang busana, yang notabene keahlian mereka dalam merancang busana diperoleh dari sekolah khusus perancang busana.

Itulah bedanya gerai busana berlabel butik dengan gerai busana label lainnya. Dapat dipastikan, konsumen yang membeli busana boleh jadi berselera tinggi dalam berbusana, tentu berkantong tebal. Walaupun saat ini sudah banyak bermunculan butik dengan level menengah.

Mengapa mereka begitu selektif sekali dalam membeli busana. Ya, memang ada sebagian orang yang sangat ekstra peduli dalam hal berbusana. Biasanya di benak mereka sudah tertanam bahwa jika mengenakan busana dengan brand tertentu mempunyai image tersendiri apabila mengenakannya.

Selain image tersendiri, mereka memang ingin mengenakan busana yang berbeda dengan yang dikenakan orang kebanyakan. Makanya membeli busana di butik adalah pilihan tepat untuk mencari busana dengan model-model yang sangat jarang ditemukan di tempat lain.

Menyoal siapa yang merancang busana, memang ada sebagian orang sangat ingin membeli busana hasil karya perancang busana yang sudah punya nama. Tentu mempunyai gengsi tersendiri bagi mereka yang mengenakannya.

Perlu diketahui, bicara busana tidak terlepas dari soal selera. Busana dengan brand tertentu yang berharga mahal belum tentu cocok bagi sebagian orang. Walaupun sebenarnya mereka mampu untuk membelinya. Pun sebaliknya, ada busana berharga ratusan ribu rupiah tapi terasa pas ketika dikenakan.

Sandra misalnya, ibu dua anak yang tinggal di Pondok Indah ini sangat menyukai busana rancangan Ivan Gunawan. Busana rancangan Ivan terkesan glamor dan berani berwain warna, tapi tetap terlihat matching apabila dikenakan.

Lain lagi Dewi, wanita yang sedang mengandung anak pertamanya ini sengaja memilih busana di 9 Month. Busana khusus ibu hamil yang menjadi brand 9 Month memang menjadi alternatif pilihan ibu hamil yang ingin tetap tampil modis di saat mengandung.

Busana yang dipajang di butik sekarang lebih bervariasi modelnya—mengikuti tren model terkini. Strategi seperti itu adalah senjata ampuh bagi semua pengelola butik guna menjaring konsumen agar tertarik membeli busana di butiknya. Kalau tidak pintar-pintar mencermati perkembangan model busana yang sedang tren saat ini bisa-bisa ditinggalkan pembeli.

Ya, itulah bisnis busana yang menyasar segmen pasar tertentu. Warga di kawasan Pondok Indah dan sekitarnya memiliki daya beli yang tak perlu diragukan lagi. Potensi pasar yang menjanjikan itu memang menjadi sasaran empuk bagi para pengelola butik yang berada tidak jauh dari rumah mereka.

Brandend

Sekarang untuk mendapatkan mahakarya para perancang busana dunia kini tak harus jauh-jauh ke luar negeri. Di Indonesia, barang-barang mode busana impian Anda semakin gampang didapatkan.

Ungkapan "ada gula ada semut" layak ditujukan untuk bisnis mode Indonesia. Semakin banyak peminat produk busana bermerek, semakin banyak pula gerai-gerai yang menjual produk busana tumbuh di Indonesia.

Ya, demikianlah tren yang sekarang bergulir manis dalam kancah panggung pencinta ranah mode. Rancangan yang biasanya hanya dapat ditemukan di luar, sekarang semakin mudah didapat di negeri sendiri.

Sepertinya, aksi jemput bola marak dilakukan untuk meraup laba sebanyak-banyaknya. Harga yang selangit pun seakan tak jadi masalah, yang penting gaya dan terlihat mengikuti perkembangan zaman sudah pasti banyak peminatnya.

Bahkan, tak peduli pantas atau tidak, orang semakin terbuai dengan beragam merek kenamaan yang kini kian banyak ditemui di mal-mal besar di Indonesia. Entah gaya hidup, uang berlebih, addict dengan produk impor atau konsumen kita yang gengsi mengakui produk dalam negeri pun tak kalah dengan buatan luar.

Namun, sepertinya mind set para sosialita sudah terpatri kuat produk luar lebih memiliki taste yang tinggi sehingga otomatis dapat mendongkrak penampilan dan prestise tersendiri bagi si empunya.

Memang tak dapat dimungkiri, "jajahan" produk impor bermerek seolah makin merajalela. Namun bukan tanpa alasan, kembali lagi pada permintaan konsumen yang seiring bertambahnya waktu tak henti-hentinya menggelegak. Toh, ini pun sah-sah saja, bersaing sehat merupakan kuncinya.

Masuknya brand dari luar, bisa menjadi cambuk produsen dalam negeri untuk berkarya lebih baik lagi. Marketing Communication Guess Indonesia Maharditya Maulana mengatakan, Guess hadir di Indonesia karena permintaan pasar yang kuat, di samping memperluas kerajaan bisnisnya.

"Sudah 15 tahun Guess ada di Indonesia dan sekarang Guess telah memiliki 21 buah butik di Jakarta, Surabaya, dan Bali," katanya.

Indonesia bahkan dipercaya untuk dijadikan basis pertama Guess Footwear di Asia, yang terletak di Mal Pondok Indah.

"Dari hasil survei dan riset yang telah kami lakukan, Indonesia merupakan pasar potensial untuk pengembangan bisnis. Selain itu, juga sebagai bentuk peningkatan pelayanan," ujar pria yang akrab disapa Didit ini.

Sama halnya dengan Didit, Leon Chan selaku senior brand manager PT Gilang Agung Persada yang mengusung produk Banana Republic dan GAP, mengungkapkan, ada satu celah kosong untuk ekspansi Banana Republic (BR) di Indonesia.

Menurut dia, di antara pilihan first line seperti Prada dan second line seperti Miu Miu, BR datang menawarkan untuk mengisi kekosongan tersebut. " Orang yang membutuhkan kualitas dan dapat dipakai sehari-hari bisa mampir kemari," ujarnya.

Alasan lainnya yang ia kemukakan memang cukup menjanjikan untuk membuka BR di Indonesia, mengingat banyak orang Indonesia yang pergi untuk pelesir ke Amerika biasanya menyempatkan diri untuk membeli oleh-oleh di butik yang memiliki tagline "Affordable Luxury" ini. "Jadi kenapa enggak sekalian kami bawa saja ke Indonesia, kan lebih mudah," paparnya.

Tak tanggung-tanggung, BR kini sudah ada di mal-mal besar seperti Senayan City, Pondok Indah, Kelapa Gading, Grand Indonesia,Tunjungan Plaza, dan tak lama lagi akan buka juga di Pacific Plaza.

"One stop shooping kami ketengahkan karena pasar kami mencakup mulai baby, anak-anak, serta pria dan wanita," tuturnya.

Seolah mereguk dan memanggil para fashionista, butik- butik luar semakin merajai pentas industri mode dalam negeri. Tak hanya sekadar pelepas dahaga, mereka seperti menjanjikan kualitas dan standar yang lebih "ningrat" ketimbang produk lokal.

Sebut saja butik luar yang sudah mampir, seperti Aigner, Channel, Dior, Armani, Versace, Raoul, Topman, Fiorucci atau yang masih anyar menorehkan jejak pertamanya di Indonesia semacam Pull and Bear.

Memang pembagian ini lagi-lagi kembali pada segmentasi target pasar, tak beda pula layaknya pembagian kasta. Sudah pasti produk luar ini menyasar kaum hedon yang banyak bergulat dengan perilaku konsumtif dan berpenghasilan menengah ke atas. Pasalnya, harga-harga yang ditawarkan tak sedikit yang mencapai belasan bahkan puluhan juta rupiah.